Pemimpin Hati
Juni 24, 2008
Suatu ketika ada seorang lelaki yang memderita sakit yang sangat parah. Sampai suatu hari ia tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan sorang dokter spesialis penyakit dalam.
Setelah sang dokter melakukan diagnosa terhadap lelaki tersebut, dokter sesegera mungkin memberikan hasil diagnosanya kepada pasiennya. Sang dokter mengatakan ” Anda mengalami penyakit kelainan yang mematikan. Secara Medis bisa dikatakan bahwa usia hidup anda tinggan 2 minggu lagi. Setelah mendengar penjelasan dari dokter, lelaki itu segera pulang dan di dalam perjalan pulang menuju rumah, lelaki menjadi bingung, resah, gelisah dan berbagai macam perasaan lainnya menimpa dirinya.
Perasaan tersebut bukan karena dia memikirkan menghadapi maut yang tinggal dua minggu lagi, tapi dia memikirkan ke empat orang istrinya. Dan dia berjanji tidak akan memberitahukan kepada istri-istrinya mengenai apa yang sedang menimpa dirinya.
Suatu hari lelaki itu mengunjungi istri mudahnya (istri ke empat). Setelah bertemu dengan istrinya, beliau mengatakan “De, bagaimana kalo seandainya kandamu ini meninggal duluan dari pada dinda. Apakah dinda masih setia mnenemani kakandamu ini? Jawab sang itri mudah itu : “wahai kanda, Aku ini kan masih mudah, tidak mungkin aku akan menemani kanda selamanya. aku akan menikah lagi mengingat usia saya yang masih mudah ini”.
Mendengar jawaban dari Istri mudanya, lelaki itu menjadi kecewa.
Ke esok harinya ia mengunjungi isteri ke tiganya. Seperti istreri yang ke empat, ia mulai menanyakan pertanyaan yang sama. “Wahai dindaku, apakah engkau bersedia menemani kakandamu ini, kalau seandainya besok kakandamu ini mati?” Jawab sang istri : “Wahai kandaku, aku akan melakukan ta’ziah setiap malam sampai malam ke-40 dan dinda akan melaukan tahlilan di hari, 1, 3, 5, 7, 9, 30 dan hari ke 100.
Mendengar jawaban dari Istri ketiganya, hati lelaki itu bertambah kekecewaannya. Rupanya jawaban yang diberikan belum membuat ia merasa senang.
Merasa tidak puas, lelaki itu terus meminta pendapat kepada istri lainnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk bertemu dengan isteri keduanya. Seperti pada isteri-isteri sebelumnya, ia memulai menanyakan pertanyaan sama pula. “Wahai dindaku, apakah engkau bersedia menemani kakandamu ini, kalau seandainya besok kakandamu ini mati?” Jawab sang istri : “Wahai kandaku, Dinda akan selalu berada di rumah dengan pakaian hitam sebagai tanda sedang berduka. Dinda akan selalu berdoa untuk kanda dan dinda tidak akan keluar rumah sampai hari ke-40″.
Mendengar jawaban yang tidak jauh beda dengan ke-2 isteri sebelumnya, hati lelaki itu bertambah gelisah. Kisedihannya bertambah, hati risau dan gundah gulana.
Dengan kondisi semacam itu, lelaki itu tidak lagi bertanya kepada istri tertuanya. Ia berfikir nantinya makin kecewa saja jika jawabannya tidak jauh berbeda dengan ke-3 istrinya itu.
Akhirnya ia memutuskan berdiam diri dan menunggu datangnya ajal menjemputnya.
Tanpa ia sadari ketiga istri mudanya bercerita mengenai pertanyaan suaminya kepada istri tertuanya. Istri tertua langsung tahu, sesungguhnay apa yang sedang menimpa kepada suaminya itu.
Di suatu sore hari sambil ngeteh dan baca koran di taman belakang rumah istri tertuanya. Sambil meneguk secangkir teh,tiba-tiba istri tertuanya datang sambil memberi salam “Assalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuh” Jawab suaminya : ” wa alaikum Salam istriku”. Tanpa banyak bicara, Isteri tertuanya langsung bertanya “Wahai kandaku, knp kanda tidak memberi tau aku? Apakah dinda tidajk bisa berbagi antara suka dan duka bersama kanda? Kenapa kanda menjadi manusia lemah? Bukankah dulu kanda yang sealu memberi dorongan untuk dinda lebih bersabar dan ikhlas meneriam semua cobaan ketika dinda menderita penyakit yang bisa mem suka maupun duka. Mendengar pembicaraan istri tertuanya, lelaki itu berdiri dan memeluk istrinya sekuat-kuatnya sambil menangis dan berkata “Sesungguhnya engkau memang beda dengan istri-istriku lainnya.
Dan kini lelaki itu menjadi legah, lebih sabar dan ikhlas menunggu ajalnya.
Dari cerita di atas, kita bisa kaitkan dengan sebuah Hadits Rasulullah SAW “Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena empat perkara: pertama karena kecantikannya, kedua karena hartanya, ketiga karena keturunannya, keempat karena agamanya. pilih yang terakhir supaya kamu bahagia(selamat)”
Entry Filed under: Dunia Islam. Tag: Dunia Islam.

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed